Pesta Nelayan

Pesta tak hanya dimiliki oleh orang-orang gedongan namun pesta juga dimiliki oleh siapa saja,termasuk para nelayan,pesta bagi mereka adalah wujud dari kegembiraan yang diutarakan dalam sebuah syukuran bersama.

Banyak hal yang diharapkan dengan dilangsungkan pesta bagi nelayan,selain rasa syukur tersimpan disana pesan moral kepada nelayan lain tentang filosofi tradisi yang diwariskan turun-menurun.

Mau tahu jalannya sebuah tradisi pesta nelayan?seperti yang diberitakan oleh kompas dibawah ini:

Tahun ini, acara adat para nelayan di pesisir Ujung Pandaran itu ramai karena digelar bertepatan dengan pelaksanaan Perkemahan Bakti Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif yang diikuti ribuan peserta dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah.

Tahun ini, acara adat para nelayan di pesisir Ujung Pandaran itu ramai karena digelar bertepatan dengan pelaksanaan Perkemahan Bakti Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif yang diikuti ribuan peserta dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Selepas penutupan acara perkemahan tersebut, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dan para bupati diarak oleh rombongan putra-putri berpakaian khas Kotawaringin Timur menuju rumah panggung di tepi pantai tersebut.

Di gapura yang berhias janur, rombongan disambut oleh tetua adat masyarakat Ujung Pandaran yang juga pawang simah laut, Muhran A. Dipotonglah janur yang melintang di muka pintu gerbang tadi dan rombongan bergerak mendekati rumah panggung.

Mereka pun lalu menaiki lantai panggung dan berdiri mengelilingi miniatur rumah betang (rumah khas Dayak) dan perahu sepanjang 1,5 meter dengan lebar 0,5 meter.

Di dalam perahu tersebut diletakkan aneka wadai (sebutan masyarakat setempat untuk kue tradisional seperti cucur, apam), wajik, bubur merah, bubur putih, dan juga telur. Kepala kerbau juga merupakan salah satu kelengkapan sesajian kaum nelayan yang akan dihanyutkan ke laut menggunakan perahu kecil itu.

Gotong royong

Ijun, nelayan Ujung Pandaran, menuturkan, aneka kue dan bubur disiapkan secara gotong royong oleh nelayan setempat. ”Simah laut ini upacara adat kaum nelayan yang kami gelar setiap tahun sekali. Diadakan saat memasuki musim angin barat seperti saat ini,” katanya.

Nelayan lainnya, Hartani, menambahkan, tiga hari berikutnya terhitung sejak pelaksanaan simah laut, nelayan Ujung Pandaran pantang melaut. Baru pada hari keempat para nelayan itu kembali melaut mencari ikan, seperti kembung, peda, dan tongkol yang banyak menghuni perairan Laut Jawa lepas pesisir Kalteng.

Pawang simah laut, Muhran, menuturkan, inti doa dalam simah laut ini untuk meminta keselamatan bagi para nelayan Ujung Pandaran. ”Dan semoga tangkapan mereka juga banyak,” katanya sebelum memimpin doa bersama itu.

Di atas panggung itu Muhran pun mendaraskan doa dengan pelan. Sementara itu, pejabat lainnya yang turut berdiri di lantai panggung juga ikut berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Tak sampai lima menit waktu yang diperlukan untuk mendoakan sesaji ini.

Selepas didoakan pawang, enam pemuda Ujung Pandaran pun mengangkat perahu yang berisi sesaji mendekati pantai. Dari arah laut, perahu-perahu nelayan merapat menjemput sesajian tersebut.

Dengan dikawal perahu-perahu nelayan, perahu berisi sesajian itu diangkat ke salah satu kapal kayu dan dibawa berlayar menjauhi pantai. Kapal sesajian itu kemudian dilayarkan ke tengah laut pada jarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.

Pemerhati budaya Dayak, Kardinal Tarung, menjelaskan, simah laut adalah akulturasi atau pembauran budaya Dayak dengan budaya pesisir Melayu yang dilakukan di Ujung Pandaran sejak dahulu kala. Belum ada catatan yang menjelaskan sejak kapan tradisi simah laut ini mulai ada.

”Memberi sesaji atau sedekah laut adalah tradisi yang dikenal banyak budaya, seperti halnya larungan pada tradisi budaya Jawa,” kata Kardinal yang juga Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Daerah Provinsi Kalteng ini.

Kembali ke soal akulturasi, Kardinal menjelaskan bahwa unsur-unsur budaya Dayak antara lain terlihat dari penggunaan miniatur rumah betang untuk meletakkan sesajian. ”Penggunaan sesajian berupa kepala kerbau juga lazim dilakukan dalam tradisi Dayak meski di budaya lain juga ada,” katanya.

Simah laut menggambarkan pemahaman masyarakat Dayak di pesisir untuk menghormati alam dan kemurahan sang Pencipta yang menganugerahkan kelimpahan ikan.

Menurut Kardinal, hal ini analog dengan tradisi beberapa masyarakat Dayak di pedalaman yang ketika akan memetik sayuran atau mengambil hasil alam lainnya kemudian menaruh silih di lokasi pengambilan, semisal sejumput garam atau logam.

Kerukunan antarwarga pun tergambar dalam penyiapan upacara adat ini. Sehari sebelum dilangsungkan simah laut, penduduk Desa Ujung Pandaran yang laki-laki bergotong royong membangun sebentuk bangunan kecil untuk meletakkan sesaji dan perahu kecil untuk melayarkan ke tengah laut.

Adapun kaum perempuan bergotong royong memasak aneka penganan untuk sesaji dan juga daging dari hewan kurban. Pemilihan hewan kurban disesuaikan dengan kemampuan warga, bisa mengurbankan kambing atau sapi. Bagian kepala hewan kurban ini kemudian dihanyutkan ke tengah laut, sementara daging dimasak untuk kemudian disantap bersama oleh penduduk dan pengunjung yang hadir.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam lima tahun terakhir memberi dukungan penyelenggaraan upacara simah laut ini sehingga pelaksanaannya bisa meriah.

”Ini sekaligus untuk mengenalkan potensi wisata budaya di pesisir Kalteng, terutama pantai Ujung Pandaran, agar lebih dikenal,” kata Bupati Kotim Wahyudi K Anwar.

Apalagi, karena memiliki nama: Kalimantan Tengah, provinsi ini seolah-olah dianggap tidak memiliki pantai karena berada di tengah hutan.

Padahal, Kalteng memiliki pantai sepanjang 750 kilometer yang terhampar mulai dari Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, hingga Kapuas.

Salam Nusantara

Jika Anda ingin Dukungan penuh dari kami,baik pengadaan produk untuk di gunakan sendiri maupun Pengadaan untuk perusahaan lain atau Pemda mohon kirimkan kepada kami via email : sales@sabas.co atau SMS ke 081-7120-755 atau Call - 021 83266689, HARGA SEWAKTU-WAKTU DAPAT BERUBAH